Hadir di Lokasi Bencana, Komunitas Samadua Berbagi Ringankan Beban Pengungsi Beutong Ateuh

SikatKasus.News, Beutong Ateuh – Kesedihan mendalam masih menyelimuti kawasan Beutong Ateuh Banggalang, Provinsi Aceh, pasca musibah banjir bandang menerjang. Selain itu, banjir juga menghanyutkan harta benda, merusak infrastruktur hingga menghapus jejak pemukiman warga setempat. Mengubah desa dulunya asri menjadi bentangan aliran sungai berbatu yang memilukan.

 

Merespons kondisi tersebut, tim relawan dari Komunitas Samadua Berbagi, berasal dari Kabupaten Aceh Selatan, turun langsung ke lokasi bencana untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada warga terdampak yang kini kehilangan tempat tinggal. Pada Minggu 21 Desember 2025 lalu.

 

Doni Herpianda, salahsatu perwakilan dari Samadua Berbagi, kepada Sikatkasus, Selasa 23 Desember 2025, mengatakan perjalanan menuju Beutong Ateuh Banggalang bukanlah perkara mudah. Tim Samadua Berbagi harus berjibaku dengan medan yang sangat menantang dan akses yang jauh di wilayah pegunungan.

Baca Juga |  Kasdam IM Brigjen TNI Yudha Fitri Hadiri Panen Raya Padi di Aceh Utara

 

“Jalur yang berkelok serta sisa-sisa longsoran akibat banjir menjadi ujian fisik bagi para relawan,” ujar Doni. Namun, jarak dan sulitnya medan tidak menyurutkan langkah tim. Semangat untuk merangkul saudara yang tertimpa musibah jauh lebih besar daripada rasa lelah menempuh perjalanan jauh tersebut.

 

Pantauan di lokasi menunjukkan betapa masifnya dampak banjir tersebut hingga memutus akses utama. Untuk mencapai titik-titik pengungsian, kini telah dibangun jembatan darurat sebagai jalur penghubung satu-satunya bagi warga dan relawan.

 

“Jembatan ini menjadi urat nadi penting agar bantuan logistik dapat tetap tersalurkan ke titik-titik tenda pengungsian yang sebelumnya terisolasi,” sebutnya.

 

Selain itu, sambung Doni, kondisi warga di lokasi sangat memprihatinkan. Sebagian besar warga kini terpaksa bertahan di tenda-tenda pengungsian darurat yang dibangun di lahan-lahan aman. “Namun, karena keterbatasan tempat, banyak warga lainnya yang memilih mendirikan gubuk-gubuk darurat di sepanjang bahu jalan pegunungan,” ungkapnya prihatin.

Baca Juga |  ‎Dandim 0107/Asel Sidak Dapur Program MBG di Kluet Utara

 

Tanpa dinding beton dan hanya beralaskan seadanya, mereka harus berjuang melawan dinginnya angin malam pegunungan di bawah naungan atap terpal yang tipis. Di sepanjang tepian jalan itulah, warga mencoba merajut kembali sisa-sisa kehidupan mereka yang hancur diterjang banjir.

 

“Kami hadir di sini untuk memastikan bahwa saudara-saudara kita di Beutong Ateuh tidak merasa sendirian. Meskipun harus melewati jalur yang sulit, medan yang jauh, dan jembatan darurat, amanah donatur harus sampai ke tangan mereka yang kini tinggal di tenda dan gubuk pinggir jalan,” kata Doni dipenuhi kesedihan melihat kondisi korban terdampak kian memilukan.

 

Dia menyebut, bantuan yang disalurkan mencakup kebutuhan pokok mendesak. Meski disadari bantuan tersebut belum mampu menggantikan rumah yang hilang, tim berharap kehadiran mereka dapat menyalakan kembali api harapan bagi warga yang tengah berduka. Pancaran senyum kebahagiaan yang muncul dari wajah para pengungsi saat menerima bantuan menjadi gumpalan api penyemangat bagi tim Samadua Berbagi untuk terus bergerak tanpa rasa gentar.

Baca Juga |  Pemerintah Aceh Peringati 21 Tahun Tsunami dan Doa Bersama Korban Banjir-Longsor Aceh

 

Komunitas ini juga menyampaikan apresiasi terdalam kepada seluruh donatur yang telah memercayakan amanahnya. Bantuan ini menjadi bukti bahwa di tengah duka, solidaritas sesama manusia tetap berdiri tegak.

 

Kata dia, musibah di Beutong Ateuh Banggalang adalah pengingat bagi kita semua tentang pentingnya solidaritas.

 

 

“Kami mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus mengirimkan doa dan dukungan terbaik agar warga dapat segera bangkit dari masa sulit ini,” demikian pungkas salahsatu perwakilan Samadua Berbagi, Doni Herpianda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *