Panglima Laot Lhok Pasie Tibang Desak Normalisasi Muara Sungai

Daerah, Headline8 Dilihat

www.Sikatkasus.news | Banda Aceh — Pendangkalan yang terjadi di muara Sungai Lhok Pasie Tibang, Gampong Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala, semakin menyulitkan aktivitas nelayan setempat. Akibat penumpukan sedimentasi, jalur keluar-masuk perahu nelayan menjadi dangkal sehingga nelayan kesulitan melaut.

Hasan (55), Panglima Laot Lhok Krueng Pasie Tibang, mengatakan kondisi ini sudah sangat mengganggu mata pencaharian nelayan. Saat air laut surut, perahu nelayan tidak dapat melintas sehingga mereka terpaksa menunggu pasang laut untuk bisa berangkat melaut.

Baca Juga |  ‎Diskusi di Balik Cangkir Kopi: Sinergi Kapolres, Legislator, dan Tokoh Masyarakat Bahas Banjir di Trumon ‎

“Nelayan sangat susah untuk melaut. Kalau air surut, perahu tidak bisa keluar sama sekali. Kami harus menunggu air pasang, itu pun tidak selalu aman,” ujar Hasan, Selasa 6 Januari 2026.

Hasan juga menambahkan pendangkalan muara terjadi akibat penumpukan sedimentasi yang terus bertambah dan belum pernah dilakukan normalisasi secara menyeluruh.

Hasan berharap pemerintah segera turun tangan untuk menormalisasikan muara sungai tersebut agar aktivitas nelayan kembali lancar.

“Kami sangat berharap pemerintah segera melakukan normalisasi muara ini, karena ini menyangkut mata pencaharian banyak nelayan,” tambahnya.

Baca Juga |  Peduli Bencana, Pramuka SMPN 4 Tapaktuan Salurkan Bantuan Sembako ke Beutong Ateuh dan Lamie

Hasan juga menyinggung kejadian serupa yang pernah terjadi di Lhok Krueng Aceh. Saat itu, lembaga adat setempat berinisiatif melakukan pengerukan muara secara swakelola. Hasilnya, hingga kini alur muara di wilayah tersebut dapat berfungsi dengan baik dan aktivitas nelayan berjalan normal.

“Contoh di Lhok Krueng Aceh, mereka lakukan pengerukan secara swakelola oleh lembaga adat, dan sampai sekarang masih berjalan normal,” jelas Hasan.

Baca Juga |  Sambut HUT Aceh Selatan Ke-69, Dinas Perkim Gelar Semangat Gotong Royong

Ia menilai, pengerukan muara sebaiknya melibatkan lembaga adat laot karena mereka lebih memahami kondisi pasang surut serta arus keluar-masuk air laut di wilayah tersebut.

“Kalau bisa, pengerukan ini dilakukan oleh lembaga adat laot. Kami lebih paham karakter muara, arus, dan waktu yang tepat untuk bekerja,” tutupnya.

Pendangkalan muara ini tidak hanya berdampak pada keselamatan nelayan, tetapi juga mengancam keberlangsungan ekonomi masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup dari hasil laut.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *