SikatKasus.News, Aceh Selatan – Ditengah sisa-sisa lumpur yang masih menyelimuti kawasan Desa Ladang Rimba, Kecamatan Trumon, sebuah pemandangan berbeda terlihat pada Sabtu (27/12/2025) sore.
Giat tersebut mengambil tajuk “Kopi Sore Bersama”, Kapolres Aceh Selatan, AKBP T. Ricki Fadlianshah, S.I.K., duduk melingkar bersama Anggota DPRK dari Partai Nanggroe Aceh (PNA), Dailami Is, Camat Trumon, Muhammad Nazir, S.I.P., Keuchik Ladang Rimba Marjaya, S.ST., serta tokoh masyarakat setempat.
Pertemuan non-formal ini bukan sekadar ajang melepas lelah, melainkan sebuah ruang diskusi strategis untuk mengevaluasi sekaligus merumuskan langkah konkret penanganan banjir bandang yang telah melanda wilayah tersebut sejak November lalu.
Sambil menyeruput kopi di tengah suasana keprihatinan, diskusi mengalir hangat. Kapolres Aceh Selatan, AKBP T. Ricki Fadlianshah, menekankan bahwa kehadiran Polri bukan hanya untuk pengamanan fisik, tetapi juga untuk menyerap aspirasi langsung dari akar rumput mengenai apa yang paling dibutuhkan warga saat ini.
”Kami ingin mendengar langsung dari Bapak Keuchik dan warga. Apa kendala di lapangan, melalui kopi sore ini, kita buang sekat birokrasi agar penanganan bencana bisa lebih cepat dan tepat sasaran,” ujar Kapolres di sela-sela diskusi.
Kehadiran Anggota DPR dan Camat dalam forum santai ini menjadi kunci penting dalam menyambungkan kebijakan antara pemerintah pusat, daerah, dan kebutuhan desa. Keuchik Marjaya, S.ST., memanfaatkan momen ini untuk memaparkan kondisi terkini Desa Ladang Rimba yang terdampak parah oleh material banjir bandang.
Beberapa poin utama yang dibahas dalam “Kopi Sore” tersebut meliputi:
Normalisasi Aliran Sungai: Perlunya langkah jangka panjang agar musibah serupa tidak terulang kembali.
Percepatan Pembersihan Material: Koordinasi alat berat dan tenaga bantuan untuk membuka akses jalan yang masih tertutup lumpur.
Distribusi Logistik Berkelanjutan: Memastikan stok pangan dan obat-obatan mencukupi untuk beberapa hari ke depan selama masa pemulihan.
Masyarakat yang turut hadir dalam diskusi tersebut merasa dihargai karena suara mereka didengar langsung oleh para pemangku kebijakan. Bagi warga, duduk bersama Kapolres dan para pejabat sambil minum kopi memberikan rasa optimisme bahwa mereka tidak sendirian menghadapi musibah ini.
Keuchik Marjaya kembali menegaskan apresiasinya. Menurutnya, inisiatif “Kopi Sore” ini menunjukkan sisi humanis kepemimpinan di Aceh Selatan.
”Ini bukan sekadar minum kopi. Ini adalah bentuk transparansi dan tanggung jawab. Kami melihat sinergi yang luar biasa antara Kapolres, Anggota DPR, dan jajaran kecamatan. Dengan duduk bersama seperti ini, solusi-solusi kecil yang tadinya tersumbat bisa langsung diatasi sore ini juga,” pungkas Marjaya.
Terpisah, pertemuan berakhir menjelang petang dengan kesepakatan bahwa seluruh elemen akan tetap bersiaga dan bergotong royong hingga proses pemulihan Trumon tuntas sepenuhnya, demikian.












