Wagub Aceh Fadhlullah Tinjau Jembatan Awe Geutah yang Ambruk, Pemerintah Siapkan Jembatan Alternatif

Daerah, Headline, News19 Dilihat

Bireuen — Pemerintah Aceh merespons cepat terputusnya Jembatan Awe Geutah di Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen, yang ambruk akibat banjir dan longsor pada Sabtu (6/12/2025).

Wakil Gubernur Aceh, H. Fadhlullah, SE, didampingi Bupati Bireuen, Mukhlis, turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi fisik jembatan dan dampak yang ditimbulkan terhadap masyarakat. Kehadiran Wagub menjadi bagian dari langkah percepatan penanganan, sekaligus memastikan bahwa penanganan darurat berjalan tanpa hambatan.

Baca Juga |  Gerakan Pangan Murah Nasional Sentuh Aceh, Wagub Fadhlullah Turun Langsung

Putusnya jembatan tersebut membuat jalur transportasi darat dari Banda Aceh menuju Medan melalui jalur tengah Bireuen terhenti total. Kondisi semakin berat karena Jembatan Kuta Blang yang berada di jalur nasional juga mengalami kerusakan dan ambruk terlebih dahulu, sehingga akses masyarakat menjadi semakin terbatas.

Baca Juga |  Wagub Fadhlullah Panen Padi di Aceh Tamiang, Apresiasi Inovasi Pupuk yang Percepat Masa Tanam

Dalam keterangannya, Wakil Gubernur menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menunda langkah penanganan. Ia memastikan pembangunan jembatan alternatif akan segera dimulai sebagai solusi cepat sebelum konstruksi permanen dikerjakan.

“Kita harus segera membuka jalur pengganti agar mobilitas warga dan distribusi logistik tidak terhenti terlalu lama. Ini prioritas,” tegas Fadhlullah di sela-sela peninjauan.

Pemerintah daerah saat ini sedang berkoordinasi dengan BPBD, Dinas PUPR, serta instansi teknis lainnya untuk menyusun skema pembangunan jembatan darurat, sekaligus merancang fondasi jembatan permanen agar tidak kembali terdampak bencana serupa.

Baca Juga |  Pelantikan di Rumoh Agam: Ahmad Yusra, S.Sos Resmi Pimpin Kecamatan Samadua

Masyarakat setempat menyambut baik respons cepat pemerintah dan berharap akses transportasi dapat segera normal kembali, mengingat jalur tersebut menjadi urat nadi perekonomian kawasan tengah Aceh.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *